Harga minyak goreng bersubsidi MinyaKita di sejumlah pasar tradisional Kota Makassar mengalami kenaikan dan kini mencapai Rp21.000 per liter. Angka tersebut jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp15.700 per liter.
Kenaikan harga ini dikeluhkan masyarakat karena dinilai semakin membebani pengeluaran rumah tangga, terutama di tengah kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan.
Salah seorang warga, Nurlina (45), mengaku terkejut dengan harga MinyaKita yang kini menembus Rp21.000 per liter. Menurutnya, MinyaKita selama ini menjadi pilihan utama karena harganya lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng premium.
“MinyaKita biasanya menjadi pilihan masyarakat karena harganya lebih murah. Sekarang sudah mencapai Rp21.000 per liter”. Ujarnya saat ditemui di Pasar Toddopuli, Kecamatan Panakkukang, Selasa (9/6/2026).
Kenaikan harga juga dibenarkan oleh pedagang di Pasar Toddopuli. Salah seorang pedagang, Rahma, mengatakan harga MinyaKita mulai mengalami kenaikan menjelang Idul Adha 2026 dan terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Selain harga yang naik, pasokan MinyaKita disebut sempat mengalami keterbatasan. Stok di sejumlah lapak tidak selalu tersedia sehingga pedagang harus menunggu pasokan baru untuk memenuhi permintaan pembeli.
“Stok sempat sulit ditemukan. Kadang stok habis dan belum ada barang yang masuk lagi”. Jelas Rahma.
Kondisi tersebut membuat selisih harga MinyaKita dengan HET semakin melebar. Dengan harga pasar mencapai Rp21.000 per liter, terdapat selisih sekitar Rp5.300 per liter dibandingkan harga acuan yang berlaku.
Di tengah kenaikan harga tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar menyebut pemantauan terus dilakukan terhadap perkembangan harga dan ketersediaan bahan pangan di pasar. Berdasarkan hasil pemantauan, pasokan bahan pokok secara umum masih tersedia di sejumlah pasar tradisional.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan di tengah fluktuasi harga yang terjadi. Sementara itu, koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan guna memastikan distribusi minyak goreng tetap berjalan dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Kenaikan harga MinyaKita kembali menjadi sorotan karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat. Selain persoalan harga, stabilitas pasokan juga menjadi perhatian mengingat minyak goreng merupakan salah satu komoditas yang digunakan hampir setiap hari oleh rumah tangga maupun pelaku usaha kecil.
