Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,12 persen pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level 2,04 persen.
Pemantauan inflasi dilakukan di delapan kabupaten dan kota, yakni Makassar, Bulukumba, Bone, Wajo, Sidenreng Rappang (Sidrap), Parepare, Palopo, dan Luwu Timur.
Kepala BPS Sulawesi Selatan, Aryanto, mengatakan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidrap sebesar 4,04 persen. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kota Palopo sebesar 2,25 persen.
Inflasi tahunan juga tercatat di Kabupaten Wajo sebesar 3,60 persen, Kabupaten Bone 3,53 persen, Kabupaten Luwu Timur 3,34 persen, Kota Parepare 3,17 persen, Kota Makassar 3,00 persen, dan Kabupaten Bulukumba 2,56 persen.
Menurut BPS, inflasi terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulawesi Selatan dari 108,28 pada Mei 2025 menjadi 111,66 pada Mei 2026.
Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi sebesar 10,62 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 5,40 persen. Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 3,03 persen.
Sejumlah kelompok pengeluaran lain turut mengalami kenaikan harga, di antaranya pendidikan, transportasi, kesehatan, perumahan, serta informasi dan komunikasi.
BPS mencatat emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan dengan kontribusi 0,79 persen, diikuti tomat dan beras.
“Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan, diikuti tomat dan beras”. Ujar Aryanto dalam rilis resmi BPS Sulsel, Senin (2/6/2026).
Secara bulanan (month to month/mtm), Sulawesi Selatan mengalami inflasi sebesar 0,09 persen pada Mei 2026. Adapun inflasi tahun kalender (year to date/ytd) hingga Mei 2026 tercatat sebesar 2,18 persen.
Data ini menunjukkan harga sejumlah barang dan jasa di Sulawesi Selatan masih mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama pada komoditas pangan dan kebutuhan konsumsi rumah tangga.
