Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama ini dikenal sebagai jalur pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan lulusan siap kerja. Namun, data ketenagakerjaan di Sulawesi Selatan menunjukkan kondisi yang berbeda. Lulusan SMK justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, tercatat sebesar 4,96 persen. Dari seluruh jenjang pendidikan, lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 8,52 persen.
Kondisi serupa juga terlihat dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025. Saat itu, tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Selatan mencapai 4,45 persen atau sekitar 219 ribu orang. Lagi-lagi, lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 9,74 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar ketenagakerjaan di Sulawesi Selatan masih banyak dihadapi oleh lulusan pendidikan menengah, khususnya pendidikan vokasi yang selama ini dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo, menilai tingginya angka pengangguran lulusan SMK menunjukkan belum optimalnya hubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Menurutnya, lapangan kerja memang masih tersedia, namun tidak selalu sesuai dengan kompetensi yang dimiliki para lulusan.
Akibatnya, sebagian lulusan SMK harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai, sementara sebagian lainnya memilih bekerja di sektor informal yang tidak berkaitan dengan bidang keahlian yang dipelajari selama sekolah.
“Tingkat pengangguran lulusan SMK yang paling tinggi menunjukkan pasar kerja belum mampu menyediakan jalur transisi yang rapi dari sekolah ke pekerjaan produktif”. Ujar Sutarjo (6/6/2026).
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan menyebut tengah memperkuat keterhubungan antara sekolah dengan dunia usaha dan industri melalui Program Pelajar Andalan.
Program ini menargetkan sebanyak 38.318 siswa SMK yang lulus pada 2026 dan nantinya akan mendapatkan pendampingan yang mencakup penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, digitalisasi layanan karier melalui akun SIAP Kerja, program magang, rekrutmen bersama perusahaan, hingga pembinaan kewirausahaan.
