Harga telur ayam di Sulawesi Selatan masih berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP). Kondisi tersebut menekan peternak rakyat karena harga jual belum sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.
Harga telur di tingkat peternak berada pada kisaran Rp20 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram. Angka tersebut masih di bawah HAP sebesar Rp26.500 per kilogram.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulsel, H. Taufiq, mengatakan biaya pakan saat ini mencapai Rp9.000 hingga Rp9.500 per kilogram. Pakan bahkan menyumbang sekitar 70 persen dari keseluruhan biaya produksi peternak.
Kondisi tersebut membuat ruang keuntungan semakin tipis dan meningkatkan risiko kerugian. Persoalan harga kemudian menjadi perhatian Kantor Wilayah VI Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Makassar.
Plt. Kepala Kanwil VI KPPU Makassar, Dahliana Tanur, mengatakan pemantauan dilakukan terhadap rantai pasok ayam ras dan telur. Salah satu yang diperhatikan adalah margin perdagangan dari tingkat peternak hingga pedagang eceran.
“Selain pengawasan harga dan rantai pasok, KPPU juga memberikan perhatian terhadap pelaksanaan kemitraan antara perusahaan inti dan peternak plasma,” kata Dahlia, Senin (24/8/2026).
KPPU juga menyoroti pola kemitraan antara perusahaan inti dan peternak plasma. Perjanjian kemitraan didorong memberikan posisi yang seimbang bagi kedua pihak, termasuk terkait pembagian hasil dan pemenuhan hak peternak.
Kepala Bidang Penegakan Hukum Kanwil VI KPPU Makassar, Charisma, mengatakan perjanjian maupun praktik kemitraan akan ditinjau bersama instansi terkait apabila ditemukan indikasi hubungan yang tidak setara.
Tekanan yang dialami peternak sebelumnya juga mencuat dalam aksi ratusan Peternak Rakyat Sulawesi di Makassar pada Senin (10/8/2026) lalu. Saat itu, peternak bahkan membagikan telur dan ayam kepada masyarakat sebagai simbol rendahnya nilai jual hasil produksi mereka.
Penanggung jawab aksi, Bazuki Suyuti, menyebut harga telur saat itu hanya sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Peternak mengaku harus menanggung selisih biaya sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 untuk setiap kilogram telur.
Selain meminta stabilisasi harga telur, peternak menyoroti tingginya harga pakan dan ketersediaan jagung. Mereka juga mendorong peningkatan penyerapan telur lokal melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, dan pengadaan pangan agar kelebihan pasokan dapat terserap sekaligus membantu menjaga harga di tingkat peternak.
