Praktik dugaan penyalahgunaan BBM subsidi berskala besar yang melibatkan distribusi lintas provinsi berhasil diungkap di Sulawesi Selatan. Dalam pengungkapan tersebut, sejumlah sarana distribusi, kapal tanker, hingga ribuan tabung LPG subsidi turut diamankan.
Kasus ini terungkap setelah penyelidikan yang berawal dari temuan dokumen pengangkutan BBM dengan volume yang diduga tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Pengembangan kasus kemudian mengarah pada aktivitas distribusi dan bongkar muat yang diduga melibatkan jaringan penyalahgunaan BBM subsidi dalam skala lebih besar.
Dari hasil penyelidikan, tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka dengan peran yang berbeda-beda, mulai dari pengurusan dokumen, distribusi, hingga penyimpanan. Selain itu, empat orang lainnya masih masuk dalam daftar pencarian.
Dalam pengungkapan kasus tersebut, petugas mengamankan kapal tanker MT Bakti 1, dua unit kapal SPOB, dua mesin alkon, serta selang sepanjang sekitar 500 meter yang diduga digunakan dalam aktivitas distribusi BBM.
Sebanyak 120 kiloliter biosolar juga disita sebagai barang bukti utama dari jaringan yang diungkap.
Selain kasus tersebut, sepanjang Maret hingga Mei 2026 tercatat 37 laporan terkait dugaan penyalahgunaan BBM dan LPG subsidi yang ditangani di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Dari puluhan kasus tersebut, sebanyak 45 orang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Akumulasi barang bukti yang diamankan hingga 21 Mei 2026 mencakup 18 mobil tangki, 17 kendaraan penumpang, enam dump truck, 332 jerigen solar, dan 12 tandon berkapasitas 1.000 liter.
Petugas juga menyita 1.541 tabung LPG subsidi ukuran 3 kilogram, 229.123 liter solar, serta 3.031 liter pertalite dari berbagai lokasi pengungkapan.
Beberapa daerah yang tercatat menyumbang barang bukti cukup besar antara lain Kabupaten Luwu dengan sitaan 5.000 liter solar dan 250 tabung LPG subsidi. Sementara itu, di Toraja Utara diamankan 2.706 liter solar dan di Kabupaten Wajo sebanyak 1.900 liter solar.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan distribusi energi bersubsidi yang selama ini menjadi kebutuhan utama masyarakat. Penyelidikan terhadap jaringan dan pihak-pihak lain yang diduga terlibat hingga saat ini masih terus berlangsung.
