Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di Indonesia. Setiap tahun, produksi rumput laut daerah ini mencapai sekitar empat juta ton. Namun, besarnya produksi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi maksimal bagi daerah karena sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk bahan baku.
Rumput laut yang diproduksi petani umumnya dikeringkan lalu dikirim ke luar daerah untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, seperti karagenan dan agar-agar. Akibatnya, keuntungan dari proses pengolahan lebih banyak dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri hilir yang lebih berkembang.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Selatan, Asrul Sani, mengatakan kondisi tersebut masih menjadi tantangan dalam pengembangan investasi daerah.
Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri pengolahan rumput laut karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah. Namun hingga saat ini, kapasitas industri yang ada masih belum mampu menyerap seluruh produksi yang dihasilkan petani.
Saat ini, industri pengolahan rumput laut telah beroperasi di Kabupaten Takalar dan Pinrang. Meski demikian, kapasitas kedua kawasan tersebut dinilai masih terbatas dibandingkan besarnya produksi rumput laut Sulawesi Selatan.
Akibat keterbatasan industri hilir, sebagian besar rumput laut masih dikirim ke sejumlah kawasan industri di Pulau Jawa untuk diproses lebih lanjut. Kondisi ini membuat nilai tambah yang seharusnya dapat dinikmati di daerah penghasil justru berpindah ke wilayah lain.
“Kalau melihat data ekspor, masih banyak rumput laut yang keluar dalam bentuk bahan mentah. Nilai tambahnya justru dinikmati daerah lain”. Jelas Asrul.
Selain berdampak pada nilai ekonomi daerah, minimnya industri pengolahan juga membuat peluang penciptaan lapangan kerja di sektor hilir belum berkembang secara optimal. Padahal, pengolahan rumput laut berpotensi membuka aktivitas ekonomi baru, mulai dari industri pangan, kosmetik, farmasi, hingga produk turunan lainnya.
Di tengah meningkatnya investasi di Sulawesi Selatan, komoditas berbasis perikanan seperti rumput laut dinilai memiliki peluang yang tidak kalah besar. Dengan produksi mencapai jutaan ton setiap tahun, pengembangan industri hilir rumput laut berpotensi meningkatkan nilai tambah produk, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada budidaya rumput laut.
