Kekeringan menjadi ancaman terbesar bagi sektor pertanian Sulawesi Selatan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Berdasarkan data Dampak Perubahan Iklim (DPI) per 31 Agustus, sebanyak 75.479 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan.
Dari luas tersebut, 26.431 hektare tercatat mengalami puso atau gagal panen. Dampaknya tersebar di sejumlah sentra pertanian Sulsel dengan Wajo menjadi daerah yang mengalami kekeringan terluas.
Di Wajo, kekeringan berdampak terhadap 25.586 hektare lahan dengan sekitar 7.467 hektare mengalami puso. Disusul Sidrap dengan 16.274 hektare lahan terdampak dan 6.010 hektare puso.
Sementara di Bone, kekeringan berdampak terhadap 9.325 hektare lahan dengan 4.129 hektare mengalami puso. Adapun Pinrang mencatat 7.810 hektare lahan terdampak dan 4.015 hektare di antaranya gagal panen.
Soppeng juga menjadi salah satu daerah dengan dampak cukup luas. Sebanyak 7.905 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan, dengan 2.830 hektare di antaranya mengalami puso.
Selain kekeringan, sektor pertanian Sulsel juga terdampak banjir. Namun skalanya jauh lebih kecil. Hingga akhir Agustus 2026, banjir berdampak terhadap 8.126 hektare lahan dengan 582 hektare mengalami puso.
Jika dibandingkan, luas lahan terdampak kekeringan mencapai lebih dari sembilan kali lipat dibandingkan banjir. Wajo, Sidrap, Bone dan Pinrang menjadi daerah dengan luasan puso akibat kekeringan terbesar.
Untuk menekan dampak kekeringan, Pemprov Sulsel mulai memobilisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), terutama pompa air untuk membantu pengairan lahan. Plt Kepala Dinas TPHBun Sulsel Bustanul Arifin mengatakan sebanyak 300 unit pompa air telah disalurkan kepada masyarakat sebagai bagian dari mitigasi dampak El Nino.
“Untuk mitigasi El Nino, yang diprioritaskan untuk dikeluarkan adalah pompa air. Sebanyak 300 unit pompa air telah disalurkan kepada masyarakat untuk membantu kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Selain pompa air, combine harvester juga mulai dimobilisasi untuk mendukung kegiatan panen di sejumlah daerah. Sekitar 30 persen combine harvester disebut telah disalurkan, sementara traktor roda dua dan roda empat dipersiapkan untuk mendukung pengolahan lahan setelah panen dan memasuki musim tanam.
Mobilisasi alsintan dilakukan dengan mempertimbangkan siklus panen dan musim tanam serta kebutuhan masing-masing daerah. Alat panen akan diarahkan ke wilayah yang sedang memasuki masa panen, sedangkan traktor dipersiapkan untuk membantu pengolahan lahan setelah panen dan menjelang musim tanam.
