Rencana pembangunan fasilitas milik PT Conch Cement atau Semen China di Kabupaten Barru, memicu kekhawatiran terhadap masa depan industri semen di Indonesia Timur. Di tengah kondisi industri nasional yang masih mengalami kelebihan pasokan (oversupply), kehadiran fasilitas distribusi baru dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap produsen lokal, termasuk PT Semen Tonasa dan Bosowa yang selama ini menjadi tulang punggung industri semen di Sulawesi Selatan.
Proyek PT Conch di Kecamatan Barru mencakup pembangunan packing plant (fasilitas pengemasan semen), pabrik kantong semen, serta Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS). Fasilitas tersebut dinilai bukan sekadar investasi manufaktur, melainkan bagian dari strategi memperluas distribusi produk semen ke kawasan Indonesia Timur.
Pemerhati Industri Semen Indonesia, Ramli Manong, menilai pembangunan fasilitas pengemasan semen di Barru akan mempermudah masuknya produk semen asal China ke pasar Indonesia Timur, seperti Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
“Ketika fasilitas pengemasan dibangun di Barru, distribusi semen dari luar akan semakin mudah. Padahal pasar yang dituju merupakan pasar yang selama ini telah diisi oleh industri semen nasional,” ujar Ramli.
Menurut Ramli, kondisi tersebut muncul ketika industri semen nasional masih mengalami kelebihan pasokan. Kapasitas produksi saat ini mencapai hampir 120 juta ton per tahun, sementara kebutuhan pasar domestik hanya sekitar 65–70 juta ton. Akibatnya, banyak pabrik belum beroperasi secara optimal dan persaingan harga semakin ketat.
“Produksi semen terus bertambah, tetapi permintaan tidak ikut naik. Karena itu, setiap ekspansi baru perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak semakin menekan industri yang sudah ada,” katanya.
Ramli menilai kondisi tersebut berpotensi memicu efisiensi di sektor industri yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap tenaga kerja.
Senada dengan itu, Direktur Riset PT Pentahelix Indonesia, Asratillah, menilai persoalan tersebut perlu dipandang sebagai isu strategis, terutama bagi Sulawesi Selatan yang telah lama menjadi basis industri semen nasional.
Menurutnya, keberadaan Semen Tonasa dan Bosowa selama ini tidak hanya menopang produksi semen, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan ribuan tenaga kerja, pelaku UMKM, perusahaan logistik, transportasi, hingga aktivitas pelabuhan.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya persaingan penjualan semen, tetapi keberlangsungan industri yang selama ini menopang ribuan pekerja dan aktivitas ekonomi di Sulawesi Selatan. Jangan sampai investasi baru justru memperbesar tekanan terhadap industri yang sudah lebih dulu berkontribusi bagi daerah,” ujar Asratillah.
Ia menambahkan, setiap rencana ekspansi distribusi sebaiknya dikaji secara menyeluruh agar tidak semakin memperburuk kondisi industri semen nasional yang saat ini masih mengalami kelebihan kapasitas produksi. Menurutnya, keseimbangan antara masuknya investasi baru dan keberlangsungan industri yang telah ada menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri serta keberlangsungan lapangan kerja di Indonesia Timur.
