Sebanyak 112 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat terjadi di 15 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Total area yang terbakar mencapai 1.613,67 hektare.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, area terdampak terdiri atas 1.607,92 hektare hutan dan lahan serta 5,75 hektare perkebunan masyarakat.
Sejumlah kejadian karhutla diduga dipicu aktivitas pembukaan lahan maupun pembakaran sampah. Kondisi tersebut diperparah musim kemarau dan meningkatnya suhu udara yang membuat vegetasi serta lahan kering lebih mudah terbakar dan api cepat meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo, mengatakan sejumlah tindakan telah dilakukan terhadap rentetan kejadian tersebut.
“Atas kejadian ini, sudah ada tindakan diambil dan itu pasti berdampak pada persoalan hukum,” ujar Amson pada Sabtu, (22/8).
Kabupaten Enrekang menjadi wilayah dengan area terdampak paling luas. Sebanyak 10 kejadian karhutla menghanguskan 1.044,55 hektare hutan dan lahan di daerah tersebut.
Karhutla tidak hanya berdampak terhadap hutan dan lahan, tetapi juga menyentuh permukiman dan kehidupan masyarakat.
Di Kota Palopo, tercatat 10 kejadian karhutla yang menghanguskan 1,25 hektare kebun dan 3,5 hektare hutan dan lahan. Tujuh keluarga terdampak dan empat orang dilaporkan menjadi korban. Sementara di Kabupaten Bantaeng, empat keluarga terdampak akibat dua kejadian kebakaran. Satu keluarga lainnya terdampak dari satu kejadian di Kabupaten Bone.
Secara keseluruhan, sebanyak 12 keluarga terdampak dan empat orang dilaporkan menjadi korban akibat rentetan karhutla di Sulawesi Selatan.
Kebakaran juga menyebabkan kerusakan terhadap 39 unit sarana milik warga. Kerusakan terbanyak tercatat di Kabupaten Barru dengan 37 unit, sedangkan dua unit lainnya berada di Kabupaten Luwu Utara.
Intensitas karhutla meningkat pada periode musim kemarau, terutama sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Di tengah tingginya kejadian selama musim kemarau, BPBD Sulsel mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu titik api baru.
“Kami menghimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Jangan sekali-kali melakukan pembakaran baik itu lahan, sampah yang dapat memicu timbulnya kebakaran, sebab cuaca panas ini sangat mudah memicu, apalagi kalau angin kencang,” katanya.
