Kopi robusta mulai menunjukkan potensinya sebagai salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Di tengah upaya diversifikasi sumber pendapatan masyarakat pedesaan, perkembangan perkebunan kopi di Desa Tana Toro kini menjadi perhatian karena mampu menghasilkan produksi hingga puluhan ton setiap tahun.
Potensi tersebut terlihat di Dusun III Matajeng, Desa Tana Toro, Kecamatan Pitu Riase. Perkebunan yang dikelola Kelompok Tani Sipammase-mase mulai berproduksi sejak 2024 dan terus menunjukkan peningkatan hasil panen.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Sidrap, Gazali Thayyib, mengatakan sekitar 4.000 pohon kopi robusta yang ditanam di lahan seluas dua hektar kini telah memasuki masa produktif.
“Produksi kopi robusta dalam bentuk kopi gabah atau hard skin (HS) di Desa Tana Toro mencapai sekitar 50 ton hingga tahun 2026″. Ujar Gazali
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa kopi tidak lagi sekadar menjadi tanaman alternatif, tetapi mulai berkembang menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah pegunungan Sidrap.
Selain menghasilkan pendapatan bagi petani, aktivitas budidaya kopi juga menciptakan peluang ekonomi lain mulai dari tenaga kerja di kebun, pengolahan pascapanen, hingga perdagangan hasil produksi. Rantai usaha tersebut dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi desa secara lebih luas.
Salah satu keunggulan kopi Tana Toro terletak pada pola panen yang dilakukan secara bertahap setiap pekan dengan sistem petik merah atau memanen buah yang telah matang sempurna. Cara ini membantu menjaga kualitas biji kopi sekaligus memberikan pemasukan yang lebih berkelanjutan bagi petani selama musim panen.
Meski produksi terus meningkat, pemasaran kopi robusta Tana Toro saat ini masih didominasi pasar lokal. Karena itu, fokus pengembangan saat ini masih diarahkan pada peningkatan produksi, perluasan lahan tanam, serta perbaikan kualitas hasil panen.
Gazali menyebut upaya membuka pasar yang lebih luas akan dilakukan setelah kapasitas produksi dan kualitas produk dinilai semakin stabil.
“Saat produksi dan kualitas sudah semakin kuat, kami akan mulai menjajaki komunikasi dengan pelaku usaha kopi dan mitra lainnya, termasuk peluang pasar yang lebih luas”.
Dengan produksi yang terus meningkat dan dukungan kondisi alam yang sesuai untuk budidaya kopi, Tana Toro berpeluang berkembang menjadi salah satu sentra kopi robusta baru di Sulawesi Selatan sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat pedesaan.
