Kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyeret sejumlah mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memunculkan sorotan terhadap pengelolaan dapur MBG di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.
Perhatian tersebut muncul setelah Kejaksaan Agung mengungkap dugaan keterlibatan yayasan yang terafiliasi dengan keluarga para tersangka dalam pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Syarief Sulaeman Nahdi, mengatakan penyidik menemukan dugaan intervensi dalam proses verifikasi SPPG, afiliasi yayasan dengan keluarga tersangka, serta indikasi penggelembungan harga dalam pengadaan barang dan jasa.
Menurut Kejaksaan Agung, sejumlah yayasan yang terafiliasi dengan keluarga para tersangka disebut memperoleh keuntungan hingga miliaran rupiah per hari dari pengelolaan program tersebut.
Perhatian publik kembali tertuju pada pengelolaan 41 dapur MBG di Sulawesi Selatan yang sebelumnya sempat menjadi perbincangan pada 2025. Puluhan dapur tersebut diketahui dikelola melalui Yayasan Yasika Group yang dipimpin Yasika Aulia Ramadhani, putri Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Yasir Machmud.
Saat itu, pengelolaan 41 dapur MBG sempat menuai sorotan karena jumlahnya dinilai jauh lebih besar dibanding batas pengelolaan yang ramai diperbincangkan publik. Isu tersebut bahkan sempat memicu pertanyaan mengenai potensi dominasi pengelolaan dapur MBG oleh satu yayasan di Sulawesi Selatan.
Namun, mantan Kepala BGN Dadan Hindayana yang sekarang menjadi tersangka membantah adanya pelanggaran. Dadan menyatakan pembangunan dapur dilakukan menggunakan investasi pihak yayasan, bukan dana negara.
“Itu kan bukan uang negara, itu investasi. Jadi siapa pun yang mampu membangun, dipersilakan”. Ujar Dadan pada November 2025 lalu.
Ketua Lembaga Kontrol Keuangan Negara (LKKN), Baharuddin, meminta agar penyelidikan tidak hanya berfokus pada tingkat pusat. Menurutnya, pengelolaan dapur MBG dalam jumlah besar di daerah juga perlu ditelusuri untuk memastikan tidak terdapat pelanggaran maupun keterkaitan dengan pihak-pihak yang saat ini sedang diperiksa.
“Tentu kita berharap kasus dugaan korupsi MBG ini tidak hanya terpusat di Jakarta. Di Sulsel ada pemilik 41 dapur SPPG. Mana tahu dengan mendapatkan 41 dapur itu karena ada faktor kedekatan antara pemilik dengan eks pimpinan BGN”. Ujar Baharuddin.
