Misbahul Umam, pemilik depot air minum Mario Water di Desa Kadong-kadong, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, baru menyadari satu persoalan dalam pengelolaan usahanya. Selama sekitar enam tahun menjalankan usaha, ia terbiasa mencampur uang pribadi dengan uang usaha tanpa pencatatan keuangan yang jelas.
Kesadaran tersebut muncul setelah Misbah mengikuti pelatihan Resota UMKM 2026 yang digelar PT Masmindo Dwi Area (MDA) pada 22–26 September 2026 di Belopa. Pelatihan tersebut diikuti 42 pelaku UMKM dari 21 desa di wilayah operasional perusahaan.
“Saya baru tahu, masalah yang selama ini saya lakukan mencampuradukkan uang usaha dan uang pribadi, sehingga tidak ada pencatatan keuangan. Padahal idealnya tidak boleh,” kata Misbahul, Jumat (2/10/2026).
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat pembekalan mulai dari pondasi usaha dan keuangan, pengelolaan arus kas, branding, pemasaran dan promosi hingga pengurusan perizinan serta sertifikasi usaha.
Misbah menilai materi pengelolaan arus kas menjadi salah satu yang paling relevan dengan kondisi usahanya. Peserta tidak hanya mendapat penjelasan mengenai konsep, tetapi juga mempelajari penerapannya dalam pengelolaan usaha sehari-hari.
Pelaku UMKM juga diajarkan menghitung harga pokok produksi (HPP) untuk mengetahui seluruh biaya yang dikeluarkan sebelum menentukan keuntungan. Usaha depot air minum milik Misbah bahkan menjadi salah satu contoh kasus dalam pembelajaran yang disampaikan akademisi Universitas Hasanuddin, Naufal Muhammad Aksah.
“Dia mengajari kami sampai ke teknisnya. Jadi bukan hanya teori,” ujar Misbah.
Pelatihan Resota UMKM diselenggarakan MDA bersama Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kabupaten Luwu. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin serta Universitas Muhammadiyah Palopo turut dilibatkan sebagai mitra dalam pelaksanaannya.
Dari 42 peserta, sebanyak 10 UMKM nantinya akan dipilih untuk mendapatkan paket bantuan modal dari MDA. Misbah masih menunggu hasil seleksi tersebut, tetapi telah menyiapkan rencana pengembangan apabila Mario Water menjadi salah satu usaha yang terpilih.
Ia berencana menggunakan bantuan untuk meningkatkan kendaraan operasional dari sepeda motor menjadi kendaraan roda empat. Selama ini, pengantaran galon kepada pelanggan masih dilakukan menggunakan sepeda motor.
Jika bantuan tersebut belum mencukupi untuk membeli kendaraan, Misbah mempertimbangkan mengembangkan usaha baru berupa produksi es kristal dengan memanfaatkan sumber air dari depot yang telah dimilikinya.
Setelah rangkaian pelatihan selesai, perkembangan UMKM peserta akan dipantau MDA bersama Forum Desa (Fordes) Matappa. Bagi Misbah, pembenahan awal akan dimulai dari persoalan mendasar yang selama ini luput diperhatikan, yakni memisahkan keuangan pribadi dan usaha serta memperbaiki pencatatan arus kas.
