Pemerintah Kabupaten Luwu mengesahkan 10 desa sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) 2026 untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai risiko bencana di wilayahnya.
Sepuluh Destana tersebut tersebar di empat kecamatan. Lima di antaranya berada di Kecamatan Latimojong, yakni Desa Ulusalu, Tolajuk, Boneposi, Rante Balla, dan Kadundung.
Sementara di Kecamatan Bajo Barat terdapat Desa Bonelemo. Tiga desa lainnya berada di Kecamatan Bua, yakni Karangkarangan, Lengkong, dan Padang Kalua. Sedangkan Desa Bosso Timur berada di Kecamatan Walenrang Utara.
Kepala BPBD Kabupaten Luwu Andi Baso Tenri Esa mengatakan pembentukan Destana diharapkan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana, mulai dari tingkat individu, keluarga hingga komunitas.
“Desa Tangguh Bencana diharapkan mampu meningkatkan kesiapan masyarakat, baik individu, keluarga maupun komunitas, dalam menghadapi ancaman bencana di wilayahnya,” kata Andi Baso.
Bupati Luwu Patahudding menegaskan pembentukan Destana tidak boleh berhenti sebatas kelembagaan. Masyarakat di setiap desa diharapkan mampu mengenali potensi bencana di wilayahnya serta melakukan langkah pencegahan dan mitigasi.
“Desa harus mampu mengenali risiko bencana di wilayahnya, melakukan pencegahan dan mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan, serta mampu merespons dan memulihkan diri ketika bencana terjadi,” ujar Patahudding.
Upaya memperkuat kesiapsiagaan tersebut turut dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi. BPBD Kabupaten Luwu bersama PT Masmindo Dwi Area dan Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) menghadirkan WebGIS Destana sebagai sistem informasi kebencanaan berbasis wilayah.
WebGIS tersebut memuat informasi terkait kejadian bencana, potensi ancaman hingga titik-titik rawan. Informasi ini dapat dimanfaatkan masyarakat dan pemerintah dalam mendukung mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan hingga pemulihan pascabencana.
Pengembangan WebGIS menjadi bagian dari kolaborasi lintas pihak dalam memperkuat kapasitas Destana. Pemkab Luwu juga mendorong keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, relawan, TNI-Polri hingga masyarakat dalam membangun ketahanan terhadap bencana.
Melalui pembentukan 10 Destana dan penguatan informasi kebencanaan berbasis digital, masyarakat diharapkan memiliki kapasitas yang lebih baik untuk mengenali risiko hingga melakukan mitigasi serta merespons ketika bencana terjadi.
