Kota Makassar mencatat temuan kasus HIV-AIDS tertinggi di Sulawesi Selatan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Sebanyak 963 kasus HIV-AIDS ditemukan di Sulawesi Selatan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Makassar menduduki urutan pertama dengan 445 kasus.
Data tersebut dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS Provinsi Sulsel di Hotel Travelers Phinisi, Makassar, Kamis (17/9/2026).
Selain Makassar, temuan kasus juga tercatat di sejumlah daerah. Kabupaten Gowa berada di urutan kedua dengan 74 kasus, disusul Palopo 38 kasus, Bulukumba 34 kasus, Jeneponto 27 kasus, Luwu Timur 23 kasus dan Bantaeng 20 kasus.
Berdasarkan kelompok umur, temuan HIV-AIDS di Sulsel pada 2026 didominasi masyarakat usia produktif. Kelompok usia 25–49 tahun mencapai 58 persen, sementara usia 15–24 tahun sebesar 35 persen.
Sementara itu, data Dinas Kesehatan Sulsel pada periode Januari hingga Agustus 2025 dapat menjadi gambaran mengenai faktor risiko yang tercatat pada tahun sebelumnya. Saat itu terdapat 1.214 kasus HIV-AIDS di Sulsel dan 572 kasus di antaranya tercatat pada kategori lelaki seks lelaki (LSL).
Faktor risiko lainnya pada data 2025 mencakup populasi umum sebanyak 200 kasus, kelompok dengan penyakit tuberkulosis 162 kasus, pelanggan pekerja seks 59 kasus, ibu hamil 54 kasus, pasangan ODHIV 52 kasus, waria 42 kasus dan wanita pekerja seks 22 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Ishaq Iskandar saat itu mengatakan pihaknya belum memiliki penelitian yang dapat menjelaskan penyebab tingginya temuan pada kelompok LSL. Karena itu, Dinkes berfokus pada upaya pencegahan dan pengendalian penularan HIV.
Memasuki 2026, tingginya temuan kasus di Makassar membuat pemerintah kota memperkuat pencegahan dan penanggulangan. Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham mengatakan penanganan HIV-AIDS membutuhkan keterlibatan berbagai sektor.
“Upaya pencegahan HIV-AIDS tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi lintas sektor agar langkah pencegahan, edukasi, deteksi dini, hingga penanganan dapat berjalan secara optimal,” ujar Aliyah, Kamis, (17/9/2026).
Pemkot Makassar akan memfokuskan langkah pada edukasi, pencegahan dan deteksi dini, terutama pada kelompok usia muda. Upaya tersebut juga dilakukan dengan tetap mencegah munculnya stigma terhadap orang dengan HIV. Langkah lintas sektor ini menjadi bagian dari upaya Makassar dan Sulawesi Selatan mendukung target Ending AIDS 2030.
