Mengembalikan anak-anak putus sekolah ke bangku pendidikan menjadi tantangan dalam pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan. Dinas Sosial (Dinsos) Sulsel mengungkapkan banyak calon siswa yang telah lama meninggalkan sekolah memilih bekerja membantu orang tua sehingga enggan kembali belajar.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat tidak dilakukan melalui pendaftaran terbuka. Seleksi dilakukan dengan sistem penjangkauan langsung berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan prioritas bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang masuk kategori desil 1, kemudian desil 2 apabila kuota masih tersedia.
Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal, mengatakan program tersebut memang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan mencari calon siswa karena seluruh data sasaran telah tersedia dalam DTSEN. Kendala utama justru muncul saat meyakinkan anak dan orang tua agar kembali memprioritaskan pendidikan.
“Sebagian besar mereka sudah lama tidak sekolah, tidak mau sekolah lagi, bahkan sudah membantu orang tuanya mencari nafkah. Itu yang menjadi tantangan kami,” ujar Malik, Selasa (30/6/2026).
Malik menambahkan, tim di lapangan juga harus memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang dapat mengubah masa depan anak.
“Data itu sudah ada dalam DTSEN sehingga tidak sulit melakukan penjangkauan. Yang sulit adalah bagaimana meyakinkan orang tua bahwa anaknya merupakan harapan dan investasi keluarga,” katanya.
Menurut Malik, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan anak putus sekolah bukan hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga perubahan kondisi sosial dalam keluarga. Anak yang telah lama bekerja untuk membantu orang tua umumnya merasa lebih terbiasa mencari penghasilan dibanding kembali mengikuti proses belajar di sekolah.
Kondisi itu juga membuat pendekatan yang dilakukan tidak cukup hanya dengan menyediakan akses pendidikan. Pendampingan kepada keluarga dinilai menjadi bagian penting agar orang tua dan anak memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya melanjutkan pendidikan, meski di tengah tekanan ekonomi.
Untuk tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat di Sulsel memperoleh kuota 270 siswa yang tersebar di Kabupaten Soppeng, Wajo, Sidrap, Tana Toraja, Bone, Sinjai, Takalar, dan Kota Makassar. Namun, minat pada jenjang SD masih rendah sehingga sebagian kuota direncanakan dialihkan ke jenjang SMP dan SMA sesuai ketentuan Kementerian Sosial.
