Sejumlah sektor utama menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel), mulai dari pertanian hingga pertambangan. Kombinasi sektor ini dinilai membuat ekonomi daerah tetap tumbuh di tengah dinamika global dan nasional.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Wahyu Purnama, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulsel pasca pandemi COVID-19 didorong oleh lima sektor utama.
“Pertumbuhan ekonomi Sulsel terus bertumbuh pasca pandemi COVID-19, itu karena didorong oleh lima sektor pendukung,” katanya dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025 di Makassar, Jumat (28/11) malam.
Ia menjelaskan, kelima sektor tersebut meliputi pertanian, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, dan pertambangan.
Kinerja sektor-sektor ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel tetap positif dalam beberapa tahun terakhir. Pada triwulan III-2025, pertumbuhan ekonomi Sulsel tercatat mencapai 5,1 persen, melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 persen.
Melihat tren tersebut, Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Sulsel pada 2026 akan lebih baik dibanding capaian tahun sebelumnya.
Di sisi lain, stabilitas ekonomi juga tercermin dari tingkat inflasi yang masih terkendali. Inflasi Sulsel berada di kisaran 2,5 plus minus 1 persen.
Data hingga Oktober 2025 menunjukkan inflasi tahunan berada di angka 2,9 persen, sementara inflasi berjalan tercatat 4,2 persen.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan iklim investasi.
Asisten Gubernur Sulsel, Darmawan Bintang, mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan menciptakan kondisi yang kondusif bagi investor, termasuk melalui penyediaan sarana dan prasarana pendukung.
“Upaya itu dengan memberikan iklim investasi yang baik pada investor, termasuk menyiapkan sarana dan prasarana pendukung,” katanya.
Dengan dukungan sektor riil yang kuat serta iklim investasi yang terus diperbaiki, pertumbuhan ekonomi Sulsel diharapkan dapat terus berlanjut dan semakin kompetitif ke depan.
